Cari Blog Ini

Memuat...

Jumat, 02 Desember 2011

sejarah huruf A sampai Z

Huruf A

A adalah huruf pertama dalam alfabaet Latin. Dalam bahasa inggris huruf ini dibaca [ei] ; bentuk jamak aes. Huruf ini berasal dari huruf Yunani A (alfa) dan sering digunakan sebagai lambang vokal depan terbuka tak bulat. A juga sering digunakan sebagai indikasi sesuatu yang bermakna "awal" atau " terbaik".

Sejarah
Huruf A dapat ditelusuri ke sebuah piktogram kepala seekor sapi jantan dalam hieroglif Mesir atau abjad Proto-Sinaitik.

Pada mulanya, gabungan konsonan /ks/ dalam bahasa Yunani Kuno ditulis sama, sebagai Khi Χ (dialek Barat) atau Ksi Ξ (dialek Timur). Akhirnya, Khi digunakan untuk bunyi /kʰ/ (/x/ dalam bahasa Yunani Modern), sementara Ksi digunakan untuk bunyi /ks/. Orang Etruska telah mengambil alih Χ dari dialek Yunani Barat Kuno; maka, X mewakili bunyi /ks/ dalam bahasa Etruska dan Latin.
Tidak diketahui apakah huruf Khi dan Ksi merupakan ciptaan orang Yunani, ataupun berasal dari rumpun bahasa Semit.

Hieroglif Mesir
"kepala sapi" →
Proto-Semitik
’alp 
Fenisia
alef 
Yunani Kuno
alfa 
Yunani Modern
alfa 
Etruska
Latin Kuno
Latin Modern
A

Sekitar tahun 1600 SM huruf dalam abjad Fenisia mempunyai bentuk linear yang menjadi dasar bagi bentuk-bentuk berikutnya. Namanya tampaknya sangat erat  berkaitan dengan alef dalam abjad Ibrani.

Ketika bangsa Yunani kuno mengadopsi abjad, mereka tidak menggunakan konsonan celah suara (bunyi hamzah) yang dikandung huruf ini dalam bahasa Fenisia dan bahasa-bahasa Semit lainnya, karena itu mereka menggunakan tanda ini untuk vokal /a/, dan mempertahankan namanya dengan perubahan kecil (alfa). Dalam prasasti-prasasti Yunani yang paling awal setelah Zaman Kekelaman Yunani, yang terjadi pada abad ke-8 SM, huruf ini dituliskan terbaring, tetapi dalam alfabet Yunani berikutnya, huruf ini pada umumnya mirip dengan huruf besar A modern, meskipun berbagai variasi setempat dapat dibedakan dengan memperpendek salah satu kakinya, atau dengan sudut tempat garis melintang diletakkan.

Bangsa Etruska membawa alfabet Yunani ke dalam peradaban mereka di Jazirah Italia dan membiarkan huruf ini tidak berubah. Kemudian orang-orang Romawi mengadopsi alfabet Etruska untuk menulis bahasa Latin, dan huruf yang dihasilkan kemudian dilestarikan dalam alfabet Latin modern yang digunakan untuk menulis banyak bahasa, termasuk bahasa Inggris.

-----------------------------------------------------------------------------------

Huruf B

B adalah huruf kedua dalam alfabet Latin. Dalam bahasa Latin dan bahasa lain pada umumnya (termasuk bahasa Indonesia), huruf ini biasanya melambangkan konsonan dwibibir, khususnya fonem [b], konsonan letup dwibibir bersuara.


Sejarah
Hieroglif Mesir
"denah rumah" →
Proto-Semitik
bet 
Fenisia
beth 
Yunani Kuno
alfa 
Yunani Modern
alfa 
Etruska
Latin Kuno
Latin Modern
A

Huruf B berasal dari sebuah piktogram denah sebuah rumah dalam aksara hieroglif Mesir atau aksara Proto-Sinaitik. Sekitar tahun 1050 SM,huruf itu dikembangkan dalam abjad Fenisia menjadi bentuk linear dan bernama beth.

-----------------------------------------------------------------------------------


Huruf C

C adalah huruf ketiga dalam alfabet Latin. Dalam bahasa Indonesia, huruf ini disebut ce sedangkan dalam bahasa Inggris disebut cee, dibaca [siː]. Dalam bahasa Latin, huruf ini melambang fonem /k/, konsonan letup langit-langit belakang tak bersuara, sedangkan dalam bahasa Indonesia dan Melayu huruf ini melambangkan fonem /t ͡ ʃ/, konsonan gesek pascarongga-gigi tak bersuara.


Sejarah

‹C› dan ‹G› berasal dari huruf yang sama. Bangsa Semit menamakannya gimel (Arab:jim). Lambangnya diadaptasi dari hieroglif Mesir yang berbentuk umban tongkat, yang mungkin merupakan arti dari nama gimel itu sendiri. Kemungkinan lainnya adalah lambang itu menggambarkan unta,yang dalam rumpun bahasa Semit disebut gamal.

Proto-Semitik
gaml 
Fenisia
gimel 
Yunani Kuno
gama 
Yunani Modern
gama 
Etruska
C 
Latin Kuno
C 
Latin Modern
C

Dalam Bahasa Etruska, konsonan letup (eksplosif) tidak mempunyai penyuaraan kontrastif, jadi huruf Yunani Γ (Gamma) diadaptasi ke dalam alfabet Etruska untuk mewakili fonem /k/. Pun dalam Alfabet Yunani Barat, mulanya Gamma mengambil bentuk Early Etruscan C.gif dalam alfabet Etruska Awal, kemudian Classical Etruscan C.gif dalam Etruska Klasik. Selanjutnya dalam bahasa Latin huruf itu mengambil bentuk C pada alfabet Latin klasik. Huruf Latin Awal menggunakan C untuk konsonan /k/ dan /ɡ/, tetapi selama abad ketiga SM, satu huruf yang diubah, telah diperkenalkan sebagai lambang bunyi /ɡ/, dan C sendiri ditetapkan untuk melambangkan bunyi /k/. Penggunaan huruf C (dan variasinya yaitu G) menggantikan sebagian besar penggunaan K dan Q. Oleh karena itu, pada masa kuno dan sesudahnya, G telah dikenal setara secara fonetik dengan Gamma, dan C sama dengan Kappa, dalam alih aksara kata-kata Yunani ke dalam ejaan Latin, seperti pada kata KA∆MOΣ, KYPOΣ, ΦΩKIΣ, dalam surat-surat Romawi ditulis CADMVS, CYRVS, PHOCIS.

Aksara lain mempunyai huruf-huruf mirip dengan bentuk C tetapi tidak sama dalam penggunaan dan asal mulanya, khususnya huruf Sirilik Es, yang berasal dari suatu bentuk huruf Yunani sigma, dikenali sebagai "lunar sigma" karena bentuknya menyerupai bulan sabit.

-----------------------------------------------------------------------------------

Huruf D

D adalah huruf keempat dalam alfabet Latin. Dalam bahasa Indonesia disebut de (dibaca ['de]), sedangkan dalam bahasa Inggris dan Melayu disebut dee (dibaca [ˈdiː]). Dalam bahasa Latin dan bahasa Indonesia, huruf ini melambangkan fonem /d/, konsonan letup rongga-gigi bersuara.


Sejarah

Huruf Semitik Dâlet kemungkinan besar berkembang dari logogram yang bermakna "ikan" atau "pintu". Terdapat berbagai hieroglif Mesir yang mungkin mengilhaminya. Dalam bahasa Semitik, Yunani Kuno, dan Latin, huruf ini melambangkan konsonan /d/; dalam huruf Etruska pula huruf ini seolah-olah tidak diperlukan, tetapi masih dilestarikan (lihat huruf B). Huruf Yunani yang setara dengannya adalah: Δ (besar) atau δ (kecil) (Delta).

Hieroglif Mesir
"pintu" →
Proto-Semitik
digg 
Fenisia
daleth
Yunani Kuno
delta 
Yunani Modern
delta 
Etruska
D 
Latin Kuno
D 
Latin Modern
D

Bentuk huruf kecil "d", yang terdiri dari satu lekukan dan satu garis vertikal yang tinggi, berkembang dari perubahan bervariasi pada bentuk huruf besar "D". Dalam penulisan pada zaman dahulu adalah suatu kelaziman untuk memulai lekukan pada kiri garis vertikal, sehingga menghasilkan suatu serif di atas lekukan itu. Serif ini disambung manakala bagian lain huruf ini dikurangi, menghasilkan suatu tangkai bersudut dan lengkungan. Kemudian tangkai bersudut ini berubah menjadi tangkai vertikal.

-----------------------------------------------------------------------------------

Huruf E

E adalah huruf Latin yang kelima. Dalam bahasa Inggris, namanya dibaca [i:]. Huruf E paling banyak digunakan dalam bahasa Inggris.


Sejarah

E diperoleh dari huruf Yunani epsilon yang kira-kira identik bentuknya (Ε, ε) dan fungsinya. Menurut etimologi, huruf hê Semitik kemungkinan melambangkan bentuk manusia yang bersembahyang atau bersorak (hillul, 'kegembiraan'), dan juga mungkin berdasarkan suatu hieroglif Mesir yang serupa bentuknya tetapi berbeda bunyi dan kegunaannya. Dalam abjad Semitik, huruf ini mewakili bunyi /h/ (dan /e/ dalam kata asing), dalam bahasa Yunani hê menjadi Εψιλον (Epsilon) yang mewakili bunyi /e/.

Hieroglif Mesir
"kegembiraan" →
Proto-Semitik
haw 
Fenisia
he 
Yunani Modern
epsilon 
Etruska
E 
Latin Kuno
E 
Latin Modern
E

Orang-orang Etruska dan Romawi Kuno juga menggunakan huruf ini sedemikian, maka munculah huruf Romawi "E". Meskipun bahasa Inggris pertengahan menggunakan E sebagai lambang bunyi /e/ panjang dan pendek, oleh sebab Peralihan Vokal Besar-besaran, kegunaannya dalam bahasa Inggris agak berbeda. Bunyi /eː/ (dalam "me" atau "bee") menjadi /iː/, sementara /e/ pendek (seperti bed) bertahan sebagai vokal madya.

-----------------------------------------------------------------------------------

Huruf F

F adalah huruf Latin ke-6. Namanya dalam bahasa Inggris, Indonesia, dan Melayu adalah ef, dibaca [ɛf]. Huruf ini sering digunakan untuk menandai bunyi konsonan desis bibir-gigi nirsuara.



Sejarah

Proto-Semitik
waw 
Fenisia
waw 
Yunani Kuno
digama  
Yunani Modern
digama 
Etruska
F 
Latin Modern
F

Asal-usul huruf F bermula dari huruf Semitik vâv yang melambangkan bunyi /v/, dan kemungkinan mulanya menggambarkan "kait" atau "gada". Huruf vâv mungkin juga terbentuk berdasarkan suatu hieroglif Mesir, yang menggambarkan "gada":




Dalam bahasa Etruska, F juga diucapkan /w/. Pada akhirnya orang Etruska mengemukakan satu inovasi yaitu menggunakan dwihuruf FH untuk bunyi /f/, dan huruf F mewakili fonem /f/ saat orang Romawi menyerapnya (karena mereka sudah meminjam huruf U dari huruf Yunani upsilon untuk bunyi /w/). Huruf phi (Φ φ) juga menyamai bunyi /f/ dalam bahasa Yunani.

Huruf kecil f tidak boleh diidentikkan dengan huruf ſ, yaitu s panjang yang digunakan pada zaman dahulu. Contohnya, "sinfulness" ditulis "ſinfulneſs" apabila memakai huruf s panjang. Kegunaan huruf s panjang memudar menjelang akhir abad ke-19, kemungkinan untuk menghindari kekeliruan dengan huruf f.

-----------------------------------------------------------------------------------

Huruf G 

Huruf G atau g adalah huruf ke-7 dalam alfabet Latin. Dalam bahasa Indonesia dan Melayu, huruf G mewakili konsonan letup langit-langit belakang bersuara (/ɡ/). Huruf G juga digunakan dalam dwihuruf "ng" untuk konsonan sengau langit-langit belakang (/ŋ/). Dalam bahasa Inggris, huruf G digunakan untuk konsonan letup langit-langit belakang bersuara dan juga konsonan gesek pascarongga-gigi bersuara (/dʒ/).



Sejarah

Huruf G diperkenalkan pada zaman Latin Kuno sebagai suatu bentuk lain bagi huruf C untuk membedakan konsonan langit-langit belakang bersuara (/ɡ/) dengan yang tidak bersuara (/k/).

Proto-Semitik
gaml 
Fenisia
gimel 
Yunani Kuno
gama 
Yunani Modern
gama 
Etruska
C 
Latin Kuno
C 
Latin Modern
G

Orang pertama yang diketahui menulis huruf G ialah Spurius Carvilius Ruga, orang Romawi pertama yang membuka sekolah berbayar, dan mengajar sekitar 230 SM. Ketika itu, huruf K makin kurang dipakai, sedangkan huruf C yang mulanya mewakili bunyi /ɡ/ dan /k/ sebelum bunyi vokal terbuka, kemudian hanya mewakili bunyi /k/ dalam setiap kedudukan.

Penempatan G oleh Ruga menunjukkan bahwa susunan alfabet, yang berkaitan dengan nilai huruf itu sebagai angka Yunani, menarik perhatian pada abad ke-3 SM. Sampson (1985) berpendapat bahwa: "Jelas sekali bahwa susunan alfabet dirasakan sebagai perihal yang begitu konkrit sehingga suatu huruf baru boleh ditambah di tengah susunan hanya jika terdapat 'ruangan' setelah menggeser huruf yang lama."[1] Menurut beberapa catatan, huruf ketujuh sebelumnya, yaitu Z, disingkirkan dari alfabet Latin pada awal abad ke-3 SM oleh seorang censor Romawi, Appius Claudius, yang merasa huruf itu asing dan tidak penting.

Tidak lama kemudian, kedua konsonan langit-langit belakang /k/ dan /ɡ/ mengalami proses palatalisasi dan alofon sebelum vokal di depan; maka dari itu, huruf C dan G mempunyai nilai bunyi berbeda dalam rumpun bahasa Roman, serta juga bahasa Inggris (akibat pengaruh bahasa Perancis).

Huruf g kecil mempunyai dua bentuk dasar yang berlainan: "g berekor terbuka"  dan "g berekor melingkar" 

-----------------------------------------------------------------------------------

Huruf H 

H adalah huruf ke-8 dalam alfabet Latin. Dalam bahasa Indonesia, huruf ini disebut ha. Dalam bahasa Inggris, huruf ini disebut aitch (jamak: aitches), dibaca /ˈeɪtʃ/ atau /ˈheɪtʃ/. Huruf ini biasanya melambangkan konsonan desis celah suara nirsuara.



Sejarah

Huruf Semitik ח (ḥêṯ) kemungkinan besar melambangkan konsonan desis hulu kerongkongan tak bersuara (/ħ/). Bentuk huruf ini mungkin berarti pagar. Alfabet Yunani H awal berbunyi /h/, tetapi lama-kelamaan menjadi huruf vokal eta (Η, η) yang berbunyi /ɛː/ (dalam bahasa Yunani modern, fonem ini bergabung dengan /i/).

Hieroglif Mesir
"pagar" →
Proto-Semitik
ḥet 
Fenisia
het  
Yunani Kuno
eta 
Yunani Modern
eta 
Etruska
H 
Latin Modern
H

Bahasa Etruska dan bahasa Latin pernah memiliki fonem /h/, namum hampir semua rumpun bahasa Roman kehilangan bunyi itu. Kemudian bahasa Romania meminjam fonem /h/ dari bahasa-bahasa Slavia di dekatnya, dan bahasa Spanyol mengembangkan bunyi /h/ sekunder dari /f/ sebelum kehilangan bunyi itu lagi, sementara beberapa dialek bahasa Spanyol memakai /h/ sebagai alofon /s/ di beberapa wilayah yang memakai bahasa tersebut.

-----------------------------------------------------------------------------------

Huruf I 

Huruf I atau i adalah huruf ke-9 dalam alfabet Latin. Dalam bahasa Inggris huruf ini dibaca [aɪ]. I merupakan lambang angka 1 (satu) dalam angka Romawi.



Sejarah

Dalam rumpun bahasa Semit, huruf Yôdh mungkin berasal dari suatu piktogram untuk "lengan" dan "tangan", berasal dari hieroglif serupa yang membawa nilai konsonan desis hulu kerongkongan bersuara (/ʕ/) dalam bahasa Mesir, tetapi dialihkan ke /j/ (seperti y pada kata "ya") oleh orang-orang Semit, karena kata Semit untuk "lengan" diawali dengan bunyi itu. Huruf ini juga boleh digunakan untuk bunyi vokal /i/, terutama dalam kata asing.

Hieroglif Mesir
"lengan" →
Proto-Semitik
yad 
Fenisia
yodh 
Yunani Kuno
iota 
Etruska
I 
Latin Modern
I

Orang Yunani menerima suatu bentuk yodh Fenisia ini sebagai huruf iota (Ι, ι) mereka untuk bunyi vokal /i/, begitu juga dalam alfabet Italik Kuno. Dalam bahasa Latin (seperti dalam bahasa Yunani Modern), huruf ini juga dipakai untuk bunyi konsonan /j/. Huruf J modern mulanya merupakan bentuk variasi bagi huruf ini, dan keduanya dapat digunakan bergantian untuk vokal dan konsonan, sehingga akhirnya dibedakan pada abad ke-16.

-----------------------------------------------------------------------------------

Huruf J 

J adalah huruf kesepuluh dalam alfabet Latin, dan huruf terakhir yang ditambah dalam kalangan 26 huruf. Namanya adalah je, dibaca [dʒeɪ].


Sejarah

J asalnya merupakan bentuk lain huruf I, sedangkan huruf I berasal dari huruf iota Yunani. Bentuk huruf kecil j digunakan pada Abad Pertengahan untuk mengakhiri angka Romawi menggantikan i.

Yunani Kuno
iota 
Yunani Modern
iota 
Etruska
I 
Latin Kuno
 
Latin Modern
J

J asalnya merupakan bentuk lain huruf I, sedangkan huruf I berasal dari huruf iota Yunani. Bentuk huruf kecil j digunakan pada Abad Pertengahan untuk mengakhiri angka Romawi menggantikan i. Penggunaan yang berbeda diawali dalam bahasa Jerman Hulu Pertengahan. Petrus Ramus (d. 1572) menjadi orang pertama yang secara jelas membedakan I dan J sebagai lambang bunyi yang berbeda. Mulanya, kedua huruf I dan J melambangkan /i/, /iː/, dan /j/; tetapi rumpun bahasa Roman mengembangkan bunyi-bunyi baru (dari /j/ dan /g/) yang menjadi bunyi-bunyi lambang I dan J; oleh itu, J bahasa Inggris (dari J Perancis, dan akhirnya dipakai dalam Indonesia) agak berbeda bunyinya dari [j].

-----------------------------------------------------------------------------------

Huruf K

K adalah huruf ke-11 dalam alfabet Latin. Dalam bahasa Indonesia, namanya disebut ka; dalam bahasa Inggris disebut kay, dibaca [ˈkɛɪ].


Sejarah

Huruf K berasal dari huruf Κ (kapa) Yunani, yang diambil dari huruf kap dalam abjad bahasa Semitik, yang berbentuk lambang tangan terbuka. Huruf kap itu mungkin dipinjam oleh kaum Semit yang tinggal di Mesir dari hieroglif bentuk "tangan" yang melambangkan bunyi /d/ pada kata "tangan" dalam bahasa Mesir Kuno, yaitu d-r-t. Orang Semit menetapkan bunyi /k/ untuk huruf ini karena kata "tangan" dalam bahasa mereka diawali dengan bunyi tersebut.

Pada prasasti kuno berbahasa Latin, huruf C, K dan Q dipakai untuk melambangkan bunyi /k/ dan /g/ (yang tidak dibedakan dalam penulisan). Dalam hal ini, Q digunakan untuk melambangkan /k/ atau /g/ sebelum vokal bulat, K sebelum /a/, dan C selain itu. Kemudian, penggunaan C (dan G sebagai variannya) menggantikan banyak penggunaan K dan Q. K tersisa hanya pada beberapa ejaan yang ketinggalan zaman seperti Kalendae, 'hari pertama tiap bulan'.

Hieroglif Mesir
"tangan" →
Proto-Semitik
kap
Fenisia
kaf 
Yunani Kuno
kapa 
Etruska
K 
Latin Modern
K

Ketika kata-kata Yunani diserap ke dalam bahasa Latin, huruf Kapa diubah menjadi C, dengan beberapa pengecualian seperti praenomen Kaeso. Beberapa kata dari alfabet lainnya juga dialihaksarakan menjadi C. Maka dari itu, rumpun bahasa Roman hanya mengandung K pada kata-kata dari bahasa lain. Rumpun bahasa Keltik juga cenderung menggunakan C daripada K, dan pengaruh tersebut terbawa ke dalam bahasa Inggris Kuno.

Di masa kini, bahasa Inggris adalah satu-satunya bahasa dari rumpun bahasa Germanik yang giat menggunakan huruf C keras di samping huruf K (walaupun bahasa Belanda juga memakai huruf C dalam kata pinjaman bahasa Latin serta mengikuti hukum pembedaan "lembut keras" dalam kata-kata tersebut, begitu pula bahasa Perancis dan Inggris, tetapi tidak bagi kosakata Belanda asli).

Beberapa ahli bahasa Inggris cenderung membalikkan proses alih aksara Latin bagi kata-kata khas Yunani, misalnya mengeja Hecate menjadi "Hekate". Penulisan bahasa-bahasa yang tidak memiliki sistem tulisan sendiri sehingga menggunakan alfabet Latin biasanya memilih K untuk bunyi /k/, seperti Kwakiutl.

Dalam Alfabet Fonetik Internasional, [k] merupakan lambang konsonan letup langit-langit belakang nirsuara.

Beberapa aksara lain juga menunjukkan aksara bersudut tajam yang menandakan bunyi /k/ atau suku kata yang bermula dengan bunyi /k/, contohnya: ك Arab, כ Ibrani, dan ㄱ Korea. Hubungan fonetik-visual seperti ini pernah dikaji oleh Wolfgang Köhler. Bagaimanapun, banyak juga contoh-contoh huruf berbunyi /k/, seperti ค dalam tulisan Thai dan Ք dalam abjad Armenia.

-----------------------------------------------------------------------------------

Huruf L

L adalah huruf ke-12 dalam alfabet Latin. Huruf ini disebut el, dibaca [ɛl].


Sejarah

Huruf L berasal dari bentuk huruf Semitik "tongkat" atau "kambing" yang mewakili bunyi /l/. Ini mungkin berdasarkan hieroglif Mesir yang telah diadaptasi oleh orang Semit untuk tujuan penulisan. 

Hieroglif Mesir
"tangan" →
Proto-Semitik
lamd 
Fenisia
lamd
Yunani Kuno
lambda
Yunani Modern
lambda 
Etruska
L 
Latin Kuno
L 
Latin Modern
L

Huruf Yunani Lambda Λ (huruf besar) atau λ (huruf kecil), yang juga merupakan huruf Etruska serta Latin, mewakili bunyi yang sama sebagaimana huruf Semitik tersebut.

-----------------------------------------------------------------------------------

Huruf M

M adalah huruf Latin modern yang ke-13. Namanya em, dibaca [ɛm].


Sejarah

Bentuk huruf M berasal dari huruf Fenisia Mem, melalui huruf Yunani Mu (Μ, μ). Huruf Mem Semitik kemungkinan besar melambangkan air.

Hieroglif Mesir
"air" →
Proto-Semitik
mem 
Fenisia
mem
Yunani Kuno
mu 
Yunani Modern
mu 
Etruska
M 
Latin Kuno
M 
Latin Modern
M

Diketahui bahawa masyarakat Semit yang hidup di Mesir kira-kira 2000 SM mengadaptasi hierogif "air" yang mulanya melambangkan konsonan sengau rongga-gigi (/n/), karena kata Mesir untuk "air" berbunyi "n-t". Simbol itu dijadikan huruf M dalam bahasa Semitik, karena kata air dalam bahasa mereka diawali dengan bunyi tersebut.

-----------------------------------------------------------------------------------

Huruf N

N adalah huruf Latin yang ke-14. Namanya disebut en (dibaca [ɛn]).


Sejarah

Salah satu hieroglif berupa ular di Mesir Kuno digunakan untuk melambangkan bunyi huruf J seperti dalam kata "jari", karena perkataan Mesir bagi "ular" berbunyi djet.

Hieroglif Mesir
"ular" →
Proto-Semitik
naḥš 
Fenisia
nun
Yunani Kuno
nu 
Yunani Modern
ni 
Etruska
N 
Latin Modern
N

Dipercaya bahwa bangsa Semit di Mesir menyesuaikan hieroglif untuk menciptakan abjad pertama, dan maka dari itu menggunakan lambang ular bagi bunyi /n/, karena kata "ular" dalam bahasa mereka mungkin sekali diawali dengan konsonan tersebut, namun nama huruf ini dalam abjad Fenisia, Ibrani, Aramea dan Arab berbunyi nun, yaitu "ikan" dalam beberapa bahasa tersebut.

Huruf ini berbunyi /n/, seperti dalam alfabet Yunani, Etruska, Latin dan semua bahasa di masa sekarang. 

-----------------------------------------------------------------------------------

Huruf O

O adalah huruf Latin modern yang ke-15, disebut o. Dalam bahasa Indonesia dibaca [o], sedangkan dalam bahasa Inggris diucapkan sebagai diftong [ˈoʊ], bentuk jamaknya oes. Biasanya huruf ini melambangkan bunyi vokal belakang setengah tertutup bulat. Dalam beberapa bahasa, ortografi masing-masing bahasa membuat nilai fonetik huruf ini berbeda-beda, seperti "eo" dalam bahasa Korea untuk bunyi [ʌ] (vokal belakang setengah terbuka takbulat); "oe" dalam bahasa Belanda untuk bunyi [u] (vokal belakang tertutup bulat).


Sejarah

Huruf O berasal dari huruf Semitik `Ayin (mata) yang melambangkan konsonan, kemungkinan konsonan desis hulu kerongkongan bersuara (ʕ), yang juga dilambangkan oleh huruf Arab ع (`Ayn). Huruf Semitik dalam bentuk asalnya nampaknya diilhami oleh bentuk hieroglif Mesir untuk "mata".

Hieroglif Mesir
"mata" →
Proto-Semitik
‘en 
Fenisia
ain
Yunani Kuno
omikron
Yunani Modern
omikron 
Etruska
O 
Latin Modern
O

Bangsa Yunani mengadakan inovasi huruf; oleh sebab tiadanya konsonan hulu kerongkongan, maka mereka meminjam huruf ini menjadi huruf omikron untuk melambangkan bunyi /o/, yaitu bunyi yang kemudian ditetapkan untuk huruf ini dalam bahasa Etruska dan Latin. Dalam tulisan Yunani, wujud huruf ini berlainan untuk membedakan bunyi o panjang (Omega, "O besar") dengan o kecil (Omikron, "o kecil").

-----------------------------------------------------------------------------------

Huruf P

P adalah huruf Latin modern yang ke-16. Dalam bahasa Indonesia disebut pe, sedangkan dalam bahasa Inggris disebut pee (dibaca [ˈpiː]).

Sejarah

Huruf P berasal dari huruf Proto-Semitik Pi’t yang berarti "mulut", yang juga menurunkan huruf Fenisia pe, serta huruf-huruf Yunani (Pi) dan Etruska yang berkembang dari huruf Fenisia tersebut. Semuanya melambangkan bunyi /p/, yaitu konsonan letup dwibibir nirsuara.

Proto-Semitik
pi’t 
Fenisia
pe 
Yunani Kuno
pi 
Yunani Modern
pi 
Etruska
P 
Latin Modern
P
Bangsa Etruska mengadaptasi alfabet Yunani dan mengubah beberapa bentuk hurufnya, termasuk Pi yang melambangkan bunyi /p/. Lengkungan pada huruf P Etruska tidak tertutup, dan pada beberapa variasi, lengkungan itu justru tertutup; variasi bentuk tertutup tersebut juga merupakan lambang bunyi /r/ dalam alfabet Etruska. Bangsa Romawi mengadaptasinya dan menetapkan bentuknya sebagai P, sehingga menyerupai bentuk huruf R dalam alfabet Etruska dan huruf Ro dalam alfabet Yunani. Meskipun demikian, nilai bunyinya berbeda. Untuk melambangkan bunyi /r/, akhirnya bentuk varian dari Ro dengan garis diagonal () diadaptasi menjadi huruf R oleh bangsa Romawi.

-----------------------------------------------------------------------------------

Huruf Q

Q adalah huruf ke-17 dalam alfabet Latin. Dalam bahasa Indonesia, namanya ki; dalam bahasa Inggris disebut cue (dibaca [ˈkjuː]) sedangkan dalam Bahasa Melayu ialah kyu.

Sejarah

Hiroglif Mesir
wj
Fenisia
Q 
Etruska
Q 
Yunan 
Qoppa 
Romawi
Q

Nilai bunyi huruf Semitik Qôp (mungkin pada mulanya qaw 'gulungan tali', dan mungkin berdasarkan kepada hieroglif Mesir) adalah /q/ (konsonan letup tekak nirsuara), suatu bunyi biasa untuk rumpun bahasa Semit, tetapi tidak dijumpai dalam bahasa Inggris atau Indo-Eropa lainnya. Dalam bahasa Yunani, tanda itu diserap sebagai Qoppa Ϙ, mungkin melambangkan beberapa konsonan letup langit-langit terbibirkan, di antaranya adalah /kʷ/ dan /kʷʰ/. Hasil dari pergeseran bunyi di kemudian hari, membuat bunyi-bunyi ini dalam Bahasa Yunani berubah menjadi /p/ dan /pʰ/. Oleh karena itu, Qoppa telah diubah ke dalam dua huruf: Qoppa, yang hanya untuk bilangan; dan Phi Φ yang digunakan untuk konsonan aspirasi /pʰ/ dan disebut sebagai /f/ dalam Bahasa Yunani Modern. Orang Etruska menggunakan Q bersamaan dengan V untuk mewakili /kʷ/.

-----------------------------------------------------------------------------------

Huruf R

R adalah huruf Latin modern yang ke-18. Dalam bahasa Indonesia disebut er, dibaca [ɛr], sedangkan dalam bahasa Inggris disebut ar (dibaca [ɑr]).

Sejarah

Bentuk huruf Semitik asalnya mungkin diilhami dari hieroglif Mesir yang berarti "kepala", disebut t-p dalam bahasa Mesir Kuno, tetapi dipinjam oleh orang Semit untuk lambang bunyi /r/ karena dalam bahasa mereka, kata "kepala" berbunyi Rêš (akhirnya menjadi nama hurufnya). Huruf tersebut berkembang menjadi Ρ ῥῶ (Rhô) Yunani dan R Latin. Kemungkinan beberapa bentuk huruf tersebut dalam bahasa Etruska dan Yunani Barat dibubuhi satu garis lagi agar berbeda bentuknya dari huruf P sekarang.

Hieroglif "kepala" →Proto-Semitik
ra’s 
Fenisia
rosh
Yunani Kuno
ro 
Yunani Modern
ro 
Etruska
R 
Latin Modern
R

Bangsa Romawi mengadaptasi huruf P Etruska menjadi bentuk P yang sekarang, sedangkan bentuk P mirip sekali dengan huruf R dalam alfabet Etruska dan Yunani. Untuk membedakannya, maka bangsa Romawi menciptakan huruf R yang mirip dengan variasi huruf R dalam alfabet Etruska dan ro dalam alfabet Yunani, yaitu dengan garis diagonal di bawah lekukannya.

-----------------------------------------------------------------------------------

Huruf S

S adalah huruf ke-19 dalam alfabet Latin. Huruf ini disebut es, dibaca [ɛs].

Sejarah

Huruf Syin ("gigi") dari rumpun bahasa Semit pernah melambangkan konsonan desis pascarongga-gigi nirsuara /ʃ/ (seperti dalam kata syarat). Bentuk asalnya mungkin menggambarkan gigi atau buah dada. Bahasa Yunani tidak mengandung bunyi /ʃ/ tersebut, maka huruf sigma (Σ) digunakan untuk mewakili /s/. Nama "sigma" barangkali diambil dari huruf Semitik "Sâmek" (ikan; tulang belakang) dan bukan "Šîn". Dalam bahasa Etruska dan Latin, nilai bunyi [s] ditetapkan, dan hanya dalam bahasa modernlah huruf ini dipakai untuk mewakili bunyi lain, seperti konsonan desis pascarongga-gigi nirsuara [ʃ] dalam bahasa Hongaria dan Jerman (sebelum p, t), atau konsonan desis rongga-gigi bersuara [z] dalam bahasa Inggris (rise, 'bangun'), Perancis (lisez, 'baca') dan Jerman (lesen, 'membaca').

Proto-Semitik
šimš 
Fenisia
shin
Yunani Kuno
sigma 
Yunani Modern
sigma 
Etruska
S 
Latin Kuno
S 
Latin Modern
S

Pada masa dahulu, suatu bentuk alternatif bagi s, yaitu ſ (s panjang), digunakan pada permulaan atau pertengahan kata dalam bahasa-bahasa Eropa tertentu; bentuk terkininya, s spendek, digunakan pada akhir perkataan. Contonhya, sinfulness ("penuh dosa") ditulis ſinfulneſs menggunakan s panjang itu. Penggunaan long s merosot menjelang awal abad ke-19, untuk mengurangi kekeliruan dengan huruf f kecil. Ligatur "ſs" (atau "ſz") dalam bahasa Jerman menjadi ess-tsett ( ß ).

-----------------------------------------------------------------------------------

Huruf T

T adalah huruf Latin modern yang ke-20. Dalam bahasa Indonesia disebut te; dalam bahasa Inggris disebut tee, dibaca [tiː]. Huruf ini merupakan huruf konsonan yang paling sering digunakan dalam bahasa Inggris.

Sejarah

Proto-Semitik
taw 
Fenisia
tau
Yunani Kuno
tau 
Yunani Modern
tau 
Etruska
S 
Latin Modern
S

Taw merupakan huruf terakhir abjad Semitik Barat dan Ibrani, kemungkinan melambangkan silang atau salib. Nilai bunyi huruf Taw, Tαυ (Tau) Yunani, dan T Italik Kuno dan Romawi sama, yaitu menandakan fonem /t/; begitu juga dengan bentuk dasarnya dalam semua abjad-abjad tersebut.

-----------------------------------------------------------------------------------

Huruf U

U adalah huruf Latin modern yang ke-21. Dalam bahasa Inggris, huruf ini disebut u atau you, dibaca [ˈjuː]; bentuk jamaknya ues. Biasanya melambangkan vokal belakang tertutup bulat ([u]), menggantikan fungsi huruf V yang beralih sebagai lambang konsonan desis bibir-gigi nirsuara.

Sejarah

Yunani Kuno
upsilon 
Yunani Modern
upsilon 
Etruska
U 
Latin Kuno
 
Latin Modern
U

Pada akhir Abad Pertengahan, timbul 2 bentuk huruf yaitu V dan U, kedua-duanya dipakai untuk bunyi /u/ dan /v/. Bentuk V yang meruncing ditulis di awal kata, sedangkan bentuk U bundar dipakai di tengah atau akhir kata tanpa memandang bunyinya.

Oleh karena itu, kata-kata seperti valour dan excuse sama seperti ejaan zaman sekarang, tetapi kata have dan upon juga ditulis haue dan vpon. Akhirnya pada tahun 1700-an, agar bunyi konsonan dan vokal dipisahkan, bentuk V menandakan konsonan sementara bentuk U untuk vokal, maka lahirlah huruf U modern. Pada masa inilah tercipta huruf besar U; sebelum ini selalu dipakai huruf besar V. Mulanya, semenjak huruf U dan V dijadikan huruf yang terpisah, V mendahului U dalam susunan abjad, namun kini terjadi hal sebaliknya.

Huruf u dimasukkan dalam abjad Romawi oleh Petrus Ramus pada abad ke-16.

-----------------------------------------------------------------------------------

Huruf V 

V adalah huruf Latin modern yang ke-22. Dalam bahasa Indonesia, huruf ini disebut fe, sedangkan dalam bahasa Inggris disebut vee, dibaca [viː]. Awalnya huruf ini melambangkan bunyi [u], vokal belakang tertutup bulat, namun vokal tersebut menjadi huruf tersendiri (U), sementara V menjadi lambang bunyi [v] (konsonan desis bibir-gigi bersuara). Dalam bahasa Indonesia sering dilafalkan seperti [f] (konsonan desis bibir-gigi tak bersuara).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar